Ruwahan sendiri tradisinya menggambarkan kerukunan masyarakat Jawa . Khususnya di kecamatan Ujung Pangkah Gresik, ruwahan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Ujung Pangkah setiap menyambut bulan Ramadhan tepatnya pada bulan Sya’ban, seluruh warga desa secara bersama-sama melaksanakannya.
Sya’ban dalam bahasa jawa, merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam. karena pada bulan inilah persiapan-persiapan menjelang Ramadhan dilakukan, baik persiapan jasmani maupun rohani, fisik maupun spiritual. Tradisi Ruwahan menjadi tradisi sosial-keagamaan yang dilakukan secara turun-temurun. Ruwahan sendiri bisa berbentuk pengajian, slametan, saling mengirim makanan, ziarah ke kuburan (nyekar), nishfu Sya’ban, dan lain-lain. Namun ruwahan yang dilaksanakan di desa-desa di Kecamatan Ujung Pangkah ini memiliki rangkaian acara yang hampir sama dengan tahlilan, yakni dengan membaca kalimat toyyibah atau tahlil, dan diakhiri dengan doa untuk para leluhur. Tujuan utama tradisi ini adalah untuk menjalin ukhuwah /persaudaraan antarwarga mendoakan arwah para leluhur, adapun pengajian-pengajian keagamaan guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga, serta menyiapkan bekal keilmuan tentang Ramadhan dan menyangkut puasa maupun fadhilah amalan-amalan di bulan Ramadhan.
Tradisi Ruwahan biasa dilaksanakan tiga hari sebelum datangnya bulan suci Ramadan Dan 3hari sebelum pelaksanaan ruwahan, di masjid sudah diumumkan agar warga mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut tradisi tersebut.
Pada pagi hari sebelum malam pelaksanaan ruwahan warga menyiapkan berbagai macam berkat (jajanan) yang akan disiapkan. Salah satu jajanan yang khas dalam tradisi ruwah adalah kue apem, makanan yang mempunyai arti kesediaan untuk saling memaafkan. Kue yang terbuat dari bahan utama tepung beras, tape, dan santan.
Ketika menjelang sore hari dimulai dengan memasak nasi, dan lauk-pauk. Lauk yang biasa digunakan dalam tradisi ruwahan adalah Bandeng yang dimasak dengan mie bumbu kuning. Selain ikan bandeng ada juga yang menggunakan telur yang dimasak terlebih dahulu baru kemudian digoreng dan dibiarkan bulat tanpa dipecah. Mengenai nominal uangnya tidak ditentukan, hanya seikhlasnya saja. Namun pada zaman sekarang berkat (jajanan) ruwahan tidak hanya dalam bentuk siap makan saja melainkan adapula yang mentahan seperti, beras, minyak goreng, gula, kerupuk, mie instan, telur yang dimasukkan kedalam satu wadah seperti timba (ember).
Setelah selesai shalat maghrib ruwahan dilaksanakan di setiap kampung, dan setiap rumah diwakili oleh satu kepala atau anggota keluarga lainnya, yang terpenting harus laki-laki. Tidak ada persyaratan khusus lainnya bahkan anak kecil juga ikut melaksanakan tradisi tersebut, hal ini dikarenakan agar tiap rumah ada yang mewakili. Setelah semua sudah kumpul kemudian melakukan do’a bersama kirim kepada ahli kubur yang dipimpin oleh salah seorang perwakilan dari tiap kampung. Kirim do’a tersebut dibacakan dimasjid dan ketika do’a sudah selesai dipanjatkan, kegiatan selanjutnya pembagian berkat.
Sumber gambar : https://www.nahimunkar.org/ruwahan-tradisi-kirim-doa-bulan-syaban/
Referensi:
Azizi Fahmi